Mengenal Teknologi Dual Mass Flywheel (DMS)

apa itu dual mass flywheel


Flywheel atau roda gila adalah komponen pada mesin yang menempel pada bagian belakang poros engkol ( crankshaft). Pada saat mesin mati, flywheel berfungsi sebagai komponen yang pertama kali digerakkan oleh motor stater yang selanjutnya akan memutarkan poros engkol sehingga mesin menjadi bekerja. Pada saat mesin bekerja, flywheel juga masih mempunyai peran dalam menghasilkan gaya inersia dari setiap langkah kerja piston dan ini dimanfaatkan untuk menggerakkan piston yang lain. Bukan itu saja, flywheel juga sebagai komponen yang menyalurkan tenaga dari mesin ke transmisi melalui kopling ( clutch ). Jadi, walaupun kelihatannya sederhana namun flywheel mempunyai segudang fungsi akan tenaga yang dihasilkan oleh mesin.

Mobil - mobil terdahulu masih mengandalkan flywheel konvensional. Flywheel ini hanya terdiri dari gerigi dan piringan logam yang mempunyai bobot yang berat. Walaupun konvensional, ia dapat mengerjakan semua fungsi diatas dengan baik.

Seiring dengan perkembangan teknologi dan inovasi, para insinyur otomotif terus mengembangkan mesin - mesin ciptaannya agar lebih efisien dan dapat mengeluarkan tenaga maksimal. Dari sinilah dimulainya pengembangan flywheel agar bukan hanya bisa mengerjakan fungsi diatas melainkan juga bisa menjadi komponen yang dapat menambah efisiensi pengguaan bahan bakar dan menambah tenaga. Maka terciptalah Dual Mass Flywheel ( DMS ) yang mana pada jenis kopling ini terdapat 2 piringan logam yang bisa terpisah.

Dual Mass Flywheel terdiri dari dua flywheel, yang pertama adalah piringan primer yang langsung bersentuhan dengan poros engkol. Seangkan bagian yang lain adalah piringan skunder yang menempel pada piringan primer. Walaupun menempel, mereka tidak fixing ( tidak  menjadi satu ) yang mana terkadang salah satu piriangan akan berputar secara independen yang ditopang oleh bantalan.

Namun putaran tersebut ada batasnya, karena perbedaan putaran diantara keduanya dibatasi oleh satu set pegas yang berfungsi untuk menyerap efek perbedaan putaran dan sebagai komponen yang juga berfungsi meredam getaran mesin.


Mengapa Dual Mass Flywheel Dibutuhkan ?


Ketika kita melihat flywheel sedang berputar, kita beranggapan bahwa flywheel tersebut berputar dengan kecepatan konstan. Namun itu adalah salah, bahwa sebenarnya flywheel tidak benar-benar beputar secara konstan. Mengapa demikian ? sebagai contoh jika mesin tersebut mempunyai 4 slinder sedangkan yang melakukan langkah kerja pada satu priode putaran hanya 1 piston sedangkan 3 piston yang lain tidak. Ketidakseimbangan ini akan menyebabkan getaran dan tidak mulusnya penyaluran tenaga dari mesin ke transmisi.

Dalam prakteknya, piston tidak memberikan tenaga  ketika berada di posisi Titik Mati Atas (Top Dead Center ) pada langkah  power stroke. Itu adalah gerakan permulaan untuk  mengerahkan kekuatan ketika bergerak melewati TMA, dan kekuatan ini meningkat secara progresif sampai mencapai 90 derajat setelah TMA. Setelah melampaui 90 derajat setelah TMA, tenaga  yang diberikan oleh piston berkurang secara progresif sampai mencapai Titik Mati Bawah ( Bottom Dead Center) di mana ini tidak lagi memberikan gaya pada poros engkol.

kelemahan flywheel konvensional


Untuk mengatasi hal ini, bisa dengan mendesain flywheel dengan ukuran yang lebih besar dan berat. Namun sayang, ini juga akan menimbulkan efek lain. Dimensi flywheel yang besar dan berat akan membutuhkan banyak tenaga dalam memutarnya dan ini akan berimbas pada kinerja mesin dan efisiensi bahan bakar yang berkurang.

Cara Kerja Dual Mass Flywheel



fungsi dual mess flywheel


Berdasarkan desain Dual Mass Flywheel bahwa  flywheel  ganda ini dapat menghilangkan masalah yang kami sebutkan di atas. Karena piringan  primer terpasang langsung ke poros engkol, maka mengikuti kecepatan sudut poros engkol yang tidak rata. Namun, karena piringan  sekunder tidak terpaku pada piringan primer, bantalan pegas di antara kedua piingan ini akan  menyerap putaran poros engkol yang tidak rata, sebelum mentransfer energi rotasi poros engkol ke piringan sekunder, yang pada gilirannya akan mentransfer putaran poros engkol ke transmisi melalui kopling.

Seberapa baik pegas bantalan meredam putaran engkol yang tidak rata tergantung dari desain dan pengaturannya. Selama mesin bekerja normal dan DMS tidak rusak, ia akan menyerap getaran yang ditimbulkan oleh gerakan poros engkol. Karena sebenarnya inilah penyebab utama kerusakan atau kegagaln gearbox manual.

Perlu kita ketahui bersama bahwa Clutch Disk ( plat kopling ) yang digunakan pada DMS tidak memiliki pegas seperti yang digunakan pada cluth disk konvensional. Ini karena fungsi pegas bantalan DMS yang menggantikan fungsinya. Jadi kita tidak bisa memasang clutch disk konvensional pada DMS ( menukarnya ).



Keuntungan Menggunakan Dual Mass Flywheel 



DMS diciptakan untuk mengurangi getaran mesin yang dapat merusak transmisi manual dalam beragam cara. Dengan tingkat kerusakan yang sebagain besar sebanding dengan amplitudo geratan. Namun perlu kita catat bahwa jika terjadi kerusakan pada transmi tersebut kita tidak bisa langsung mendeteksi bahwa DMS yang rusak, bisa jadi ini terjadi karena pola mengemudi atau riwayat servixe yang salah.

Meskipun demikian, manfaat lain dari DMS mencakup pengoperasian kopling yang lebih mulus, peningkatan perpindahan gigi, pengurangan keseluruhan getaran di seluruh kendaraan, dan pada beberapa aplikasi, bahkan sedikit bisa meningkatkan efisiensi ekonomi bahan bakar.


Kerugian  Menggunakan Dual Mass Flywheel 


Tidak dapat dipungkiri bahwa Dual Mass Flywheel memiliki kekurangan yang mana ini sebenarnya ditentukan oleh beberapa faktor. Seperti merek DMS yang digunakan oleh kendaraan tersebut, pola penggunaan kendaraan apakah digunakan untuk menarik atau tidak, jarak tempuh kendaraan dan kondisi mengemudi. Selain itu faktor eksternal juga berpengaruh seperti seringnya kendaraan melintasi jalanan berkerikil dan berbebu yang mana ini berpengaruh terhadap daya pakainya.


Meskipun demikian, beberapa kelemahan yang obyektif pada DMS adalah sebagai berikut :



  1. Biaya penggantian yang sangat tinggi dibandingkan dengan biaya penggantian roda gila dan kit kopling konvensional. Sebagian besar pabrikan merekomendasikan untuk mengganti DMS  bersama dengan kopling.
  2. DMS yang sudah rusak  tidak dapat diperbaiki kembali dan tidak dapat digantikan dengan flywheel konvensional. 
  3. Masa pakai,  beberapa merek DMS jika secara rutin diperiksa bisa dipakai hingga jarak tempuh sekitar 150.000 km atau lebih, sementara sebagian merek yang lain malah tidak sampai jarak 50.000 Km sudah mengalami kerusakan. 
Demikianlah penjelasn dari kami mengenai teknologi Dual Mass Flywheel, semoga bermanfaat. 

0 Response to "Mengenal Teknologi Dual Mass Flywheel (DMS)"

Post a Comment

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel