lksotomotif.com - Pertumbuhan jumlah penduduk serta peningkatan jumlah kendaraan mendorong naiknya kebutuhan migas di Indonesia . Peningkatan impor BBM di Indonesia saat ini menyebabkan ketahanan energi nasional rentan terhadap fluktuasi harga dan pasokan minyak mentah dunia. Penganekaragaman energi selain energi berbasis fosil mutlak diperlukan untuk mengantisipasi cadangan minyak domestik dan dunia yang semakin menurun serta meningkatkan ketahanan energi nasional.
Sebagai produsen dan pengekspor komoditi kelapa sawit, Indonesia memiliki potensi besar untuk mendorong penggunaan BBN berbasis sawit sebagai energi terbarukan. Saat ini, produksi kelapa sawit di Indonesia diprediksi mencapai 42 juta ton (Ditjen Perkebunan, 2019).
Pemerintah Indonesia telah menetapkan kewajiban penggunaan bahan bakar biodiesel sebagai campuran minyak solar untuk mesin diesel. Saat ini mandatori penggunaan BBN telah mencapai pencampuran minimal biodiesel sebesar 20% atau B-20Pada tahun 2020, mandatori pencampuran biodiesel ditargetkan minimal 30% atau B-30. Dengan kewajiban penggunaan biodiesel tersebut yang terus meningkat, pengembangan biodiesel (B-100) menjadi mutlak diperlukan untuk mempercepat pengembangan energi baru dan terbarukan.
Penggunaan biodiesel 50% (B-40/50) sebagai bahan bakar untuk mesin diesel juga dapat dilakukan sebagai upaya percepatan dalam pemanfaatan BBN. Oleh karena itu, dalam mendukung implementasi B-40/50 untuk mesin diesel dibutuhkan kajian teknis terkait aspek kualitas bahan bakar dan unjuk kinerja mesin.
Selain itu, pengujian tersebut juga dibutuhkan untuk mengevaluasi kesesuaian produk B-40/50 dengan spesifikasi yang ditetapkan sehingga didapatkanrekomendasi teknis untuk diterapkan pada mesin diesel.
Hasil pengujian diperoleh dari dari data lemigas ESDM.
1. Pengaruh B-40/50 Terhadap Karakteristik Bahan Bakar
Hasil pengujian karakteristik bahan bakar B-40/50 menunjukkan peningkatan angka setana, berat jenis, viskositas kinematik, distilasi pada 90% vol. penguapan, titik nyala, kandungan air, dan bilangan asam total seiring peningkatan campuran biodiesel pada minyak solar. Selain itu, terjadi penurunan stabilitas oksidasi dan coldflow properties, meliputi titik tuang dan titik kabut, seiring peningkatan konsentrasi
biodiesel yang digunakan.
2. Endapan Presipitasi Bahan Bakar pada Temperatur 15 °C
Peningkatan konsentrasi biodisel pada minyak solar, menyebabkan peningkatan endapan presipitasi yang terbentuk. B30 menghasilkan endapan presipitasi sebesar 814 ppm pada pengkondisian 7 hari dan 948 ppm pada pengkondisian 14 hari. Sementara itu B40 menghasilkan endapan presipitasi sebesar
921 ppm pada pengkondisian 7 hari dan 1120 ppm pada pengkondisian 14 hari.
Begitu pula dengan B50 yang mengandung endapan presipitasi sebesar 988 ppm (7 hari) dan 1319 ppm (14 hari). Secara berurutan, endapan presipitasi yang dihasilkan B30 < B40 < B50.
3. Kinerja Mesin Dibanding Diesel B30
Penurunan daya maksimum dan torsi dibandingkan dengan B-30. Besarnya penurunan tersebut bergantung pada jenis tekonologi mesin yang digunakan pada unit kendaraan. Sifat alamiah dari biodiesel yang memiliki nilai kalor lebih rendah dibandingkan minyak solar menyebabkan penurunan daya maksimum dan torsi yang dihasilkan, seiring peningkatan campuran biodiesel yang digunakan.
Konsumsi bahan bakar yang dihasilkan bahan bakar B-40 dan B-50 dibandingkan dengan B-30, menunjukkan peningkatan 1% hingga 3%. Hal tersebut terkonfirmasi oleh nilai kalor yang dihasilkan bahan bakar B-40 dan B-50 yang lebih rendah dibandingkan B-30. Hal tersebut juga sejalan dengan penurunan daya maksimum dan torsi yang dihasilkan. Tentunya hal tersebut menjadi permasalahan
teknis yang utama terkait dengan implementasi penggunaan campuran biodiesel lebih dari 30% pada aspek kinerja mesin.
0 Response to "Hasil Uji Lab Bahan Bakar Diesel B-40/50 Dibandingkan Dengan B-30 Dan B-0 "
Post a Comment